Lemben Bertahan di Era Digital, Dari Panggung ke TikTok Demi Tetap Berkarya
ACEH BARAT - Seniman Aceh Barat, Teuku Nasruddin MA atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Lemben, mengaku saat ini lebih banyak beraktivitas di media sosial TikTok setelah dunia hiburan dan pertunjukan mengalami perubahan besar pasca pandemi COVID-19.
Menurutnya, sejak pandemi melanda, aktivitas manggung dan pementasan yang selama ini menjadi sumber penghasilan para seniman mengalami penurunan drastis. Karena itu, ia memilih memanfaatkan platform digital untuk tetap menyalurkan bakat seni yang dimiliki.
“Sekarang saya lebih fokus di TikTok. Di sana saya membuka room karaoke bersama dan sering diundang ke room teman-teman lainnya. Alhamdulillah ada rezeki yang bisa didapat. Daripada tidak ada kegiatan, lebih baik menyalurkan hobi dan bakat,” ujar Lemben.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah meninggalkan dunia tarik suara. Kendala utama yang dihadapi saat ini adalah minimnya dukungan produser untuk membiayai produksi lagu.
“Untuk membuat satu lagu hari ini biayanya bisa mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta, mulai dari proses rekaman, aransemen hingga produksi. Sementara hasil dari platform digital tidak langsung bisa dirasakan seperti dulu saat masih era kaset dan CD,” jelasnya.
Selain aktif di TikTok, Lembin juga masih dipercaya menjadi mentor dalam sejumlah kegiatan seni dan budaya. Ia mengaku sering diundang oleh program Rumah Bahasa untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru terkait teknik bernyanyi, berdialog dan seni pertunjukan.

Dalam kesempatan tersebut, Lemben juga menyampaikan harapannya kepada para kreator konten dan generasi muda agar terus menghasilkan karya orisinal.
“Saya berharap teman-teman seniman dan kreator tidak hanya menjiplak atau sekadar memanfaatkan teknologi AI. Berkaryalah dengan kemampuan sendiri. Memang sulit, tetapi itulah nilai seni yang sebenarnya,” katanya.
Menurut Lemben, perkembangan kecerdasan buatan (AI) memang memudahkan banyak hal, mulai dari membuat lirik hingga menghasilkan lagu dalam waktu singkat. Namun, ia menilai kreativitas manusia tetap harus menjadi dasar dalam berkesenian.
“Sekarang dua kalimat saja bisa dijadikan lagu oleh AI. Tapi karya yang lahir dari pemikiran dan perasaan manusia memiliki nilai tersendiri,” tambahnya.
Lemben menyebut lagu terakhir yang diproduksinya berjudul “Aceh Lam ie Raya”, yang terinspirasi dari musibah banjir yang melanda Aceh. Lagu tersebut dapat ditemukan di platform YouTube.
“Lagu itu dibuat secara spontan setelah melihat kondisi masyarakat yang terdampak banjir. Saya langsung berkolaborasi dengan Yus Melbourne untuk proses rekamannya,” ujarnya.
Ratusan Lagu dan Sejumlah Film
Selama lebih dari dua dekade berkarya, Lemben mengaku telah menciptakan sekitar ratusan lagu berbahasa Aceh. Ia juga pernah tergabung dalam grup musik Beigon CS bersama sejumlah seniman Aceh lainnya sebelum akhirnya memilih berkarier secara mandiri pasca tsunami.
Selain dunia musik, Lemben juga terlibat dalam produksi sejumlah film lokal Aceh. Ia memperkirakan telah berpartisipasi dalam sekitar enam judul film serta turut membantu proses pengembangan naskah serial populer Aceh yang diproduksi bersama sejumlah sineas daerah.
Harapan untuk Dunia Seni Aceh Barat
Di akhir wawancara, Lemben menyoroti pentingnya dukungan pemerintah terhadap perkembangan seni dan budaya daerah. Menurutnya, banyak seniman berbakat di Aceh Barat yang membutuhkan ruang, fasilitas dan perhatian agar dapat terus berkarya.
“Kita punya banyak bibit dan talenta seni. Yang kurang hanya dukungan dan fasilitas. Saya berharap ke depan ada perhatian yang lebih serius terhadap para pelaku seni di Aceh Barat,” harapnya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk tetap menjaga nilai-nilai budaya Aceh dalam setiap karya yang dihasilkan, sehingga seni modern dapat berkembang tanpa meninggalkan identitas dan norma yang berlaku di daerah.


Komentar