Sekilas Info

Abdul Jalil: Krueng Tujoh Terancam Aktivitas Pertambangan, Minta Sungai Dikeluarkan dari IUP

Anggota Presidium Aliansi Masyarakat Peduli Krueng Tujoh, Abdul Jalil, menyampaikan kondisi dan persoalan Krueng Tujoh dalam RDP di DPRK Aceh Barat (24/8/2026) Photo: ARIFFAHMI

ACEH BARAT | pojoksuara.id - Anggota Presidium Aliansi Masyarakat Peduli Krueng Tujoh, Abdul Jalil, memaparkan kondisi jaringan anak sungai yang menjadi bagian dari sistem aliran Krueng Tujoh hingga bermuara ke Krueng Meureubo. Ia menilai keberlangsungan Krueng Tujoh saat ini terancam akibat aktivitas pertambangan batu bara di kawasan hulu dan sekitarnya.

Hal tersebut disampaikan Abdul Jalil dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait keberlangsungan hidup Krueng Tujoh di Ruang Rapat Gabungan Komisi DPRK Aceh Barat. Senin, 24/8/2026.

Dalam pemaparannya, Abdul Jalil menjelaskan bahwa Krueng Tujoh memiliki sejumlah anak sungai yang saling terhubung. Menurutnya, jika perjalanan dimulai dari kawasan Meureubo menuju Krueng Tujoh, salah satu aliran yang pertama ditemui adalah Krueng ie Mirah atau yang dikenal masyarakat sebagai Krueng Pucok Laot.

Ia menyebut ujung Krueng ie Mirah berada di belakang Makorem 012 Teuku Umar, kawasan Alue Peunyareng (Alpen). Di lokasi tersebut terdapat Jalan 50 dan jembatan yang menurut Abdul Jalil dibangun PT Mifa Bersaudara untuk mendukung aktivitas pengangkutan batu bara menuju Gampong Peunaga Cut Ujong.

“Di bawah jembatan itulah namanya Krueng Ie Mirah atau dikenal juga dengan sebutan Krueng Pucok Laot,” ujar Abdul Jalil.

Dari kawasan tersebut, perjalanan menuju hulu akan bertemu dengan kanal Krueng Buloh. Abdul Jalil mengatakan jarak dari persimpangan menuju Krueng Buloh sekitar 150 meter. Namun, menurutnya, masyarakat kini tidak lagi dapat masuk lebih jauh ke kawasan tersebut karena kondisi Krueng Buloh telah mengalami kerusakan akibat aktivitas pertambangan batu bara.

“Kita naik lagi ke atas, kita ketemu dengan kanal Krueng Buloh. Dari persimpangan itu untuk menuju ke Krueng Buloh sekitar 150 meter. Setelah itu kita tidak bisa masuk lagi ke Krueng Buloh karena sudah hancur akibat tambang batu bara,” katanya.

Jaringan Anak Sungai Krueng Tujoh

Abdul Jalil menjelaskan Krueng Buloh memiliki dua percabangan. Salah satunya mengarah ke Krueng Seumambek yang berada di kawasan Seumambek. Menurutnya, di kawasan tersebut terdapat aktivitas pertambangan batu bara.

Sementara cabang lainnya mengarah ke Krueng Keumacah menuju wilayah Kabupaten Nagan Raya. Ia menyebut kawasan tersebut tidak terdapat aktivitas pertambangan batu bara.

Menurut Abdul Jalil, aliran Krueng Seumambek juga mengalir menuju Krueng Tujoh.

Selain itu, terdapat Krueng Balee yang kemudian bercabang dengan Krueng Reudeup dan Krueng Pucok Reudeup. Semakin ke hulu, aliran tersebut terhubung dengan Krueng Paya Baro yang kemudian menuju Krueng Tunggak.

Krueng Pucok Reudeup, lanjutnya, juga terhubung hingga kawasan Krueng Blang Geunang.

“Semua aliran itu tetap mengalir ke hilir yang berada di Krueng Tujoh,” tegasnya.

Abdul Jalil mengatakan pemahamannya mengenai jaringan sungai tersebut diperoleh dari pengetahuan dan sejarah yang diwariskan oleh leluhurnya.

“Kami tahu semua karena tanah endatu kami,” ujarnya.

Soroti Tumpahan Batu Bara

Dalam RDP tersebut, Abdul Jalil juga menyoroti aktivitas pengangkutan batu bara yang menurutnya berpotensi mencemari aliran sungai.

Ia mencontohkan kondisi di Jalan 50 yang terdapat jembatan Krueng Pucok Laot. Menurutnya, batu bara yang diangkut melalui jalur tersebut kerap tumpah ke jalan dan kemudian berpotensi terbawa air hujan masuk ke sungai.

“Di Jalan 50 itu ada jembatan Krueng Pucok Laot. Batu bara yang lewat daerah itu setiap saat tumpah di jalan, dibawa air hujan ke dalam sungai,” katanya.

Ia juga menyebut adanya jembatan di kawasan Krueng Buloh, tepatnya di sekitar Gunong Meulinteung. Menurutnya, apabila material batu bara tumpah di sepanjang jalur tersebut, debu maupun material yang terbawa air hujan berpotensi masuk ke Krueng Buloh dan selanjutnya menuju Krueng Tujoh.

Abdul Jalil menegaskan kondisi serupa perlu menjadi perhatian terhadap seluruh anak sungai yang memiliki hubungan dengan Krueng Tujoh.

Sejarah dan Nilai Budaya Krueng Tujoh

Selain persoalan lingkungan, Abdul Jalil juga mengungkapkan sejumlah lokasi di sekitar jaringan sungai Krueng Tujoh yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat.

Ia menyebut kawasan yang dikenal sebagai Qur’an Ju, yang menurut cerita masyarakat merupakan tempat jatuhnya sebuah Al-Qur’an yang diselamatkan oleh seorang tokoh agama pada masa peperangan melawan Belanda.

Menurut cerita yang diwariskan masyarakat, Al-Qur’an tersebut dibawa dari kawasan Krueng Ie Mirah atau Krueng Pucok Laot ketika permukiman masyarakat dibakar oleh Belanda.

Abdul Jalil juga menyebut kawasan Pucok Reudeup yang memiliki lokasi bernama Cot Benteng atau Gunung Benteng Belanda. Kawasan tersebut, menurutnya, menjadi salah satu lokasi peperangan pada masa penjajahan Belanda.

Ia mengaku mengetahui sejarah kawasan tersebut berdasarkan cerita dan pengalaman yang diwariskan keluarganya.

“Nenek moyang saya di situ ditangkap, dibawa, sampai sekarang tidak tahu di mana pusaranya,” ungkap Abdul Jalil.

Ia menilai sejarah tersebut menjadi alasan lain mengapa kawasan Krueng Tujoh dan daerah alirannya perlu mendapat perhatian dan perlindungan.

Soroti IUP Pertambangan

Abdul Jalil selanjutnya menyoroti keberadaan sejumlah izin usaha pertambangan (IUP) yang menurutnya berada di kawasan yang memiliki hubungan dengan sistem aliran Krueng Tujoh.

Ia menyebut aliran air dari wilayah PT NCN juga mengarah ke Krueng Tujoh. Sementara aliran dari wilayah PT IPE, PT Mifa Bersaudara dan PT AJB, menurutnya, memiliki keterkaitan dengan Krueng Buloh maupun Krueng Balee yang pada akhirnya terhubung dengan Krueng Tujoh.

“PT NCN aliran airnya juga mengalir ke Krueng Tujoh. PT IPE juga aliran airnya mengalir ke Krueng Buloh dan Krueng Balee. Begitu juga PT Mifa Bersaudara aliran airnya mengalir ke Krueng Buloh dan Krueng Balee. PT AJB juga aliran airnya ke Krueng Balee dan Krueng Buloh,” jelasnya.

Menurut Abdul Jalil, keterhubungan tujuh aliran anak sungai tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat menyebutnya sebagai Krueng Tujoh.

Ia menegaskan Krueng Tujoh selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat yang berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) tersebut.

Jalur Transportasi Masyarakat

Abdul Jalil juga mengungkapkan bahwa pada masa lalu masyarakat di sejumlah gampong menggunakan Krueng Tujoh sebagai jalur transportasi menuju Meulaboh.

Ia menyebut masyarakat Gampong Buloh, Pucok Reudeup, Reudeup, Kreusek, Paya Bume dan Seumambek dahulu menggunakan sampan untuk menyusuri Krueng Tujoh menuju Meulaboh.

Namun, seiring tersedianya akses jalan darat, penggunaan sungai sebagai jalur transportasi masyarakat semakin berkurang.

“Dahulu masyarakat semuanya menggunakan sampan melalui Krueng Tujoh menuju Meulaboh. Sekarang selama ada jalan, warga tidak lagi menggunakan jalur tersebut,” katanya.

Meski demikian, menurut Abdul Jalil, berkurangnya penggunaan sungai sebagai jalur transportasi tidak berarti fungsi Krueng Tujoh menjadi tidak penting. Sungai tersebut tetap menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang DAS Krueng Tujoh.

Minta Krueng Tujoh Dikeluarkan dari IUP

Abdul Jalil mengatakan masyarakat bersama Aliansi Masyarakat Peduli Krueng Tujoh telah melihat langsung kondisi kawasan hulu.

Menurutnya, di kawasan hulu telah ditemukan pembukaan lahan untuk aktivitas pertambangan batu bara. Ia juga menyebut kondisi air Krueng Tujoh saat ini telah tercemar.

Namun, ia menegaskan persoalan yang lebih besar bukan hanya mengenai pencemaran air, melainkan keberadaan kawasan Krueng Tujoh yang menurutnya semakin terdesak oleh wilayah perizinan pertambangan.

“Air sungai Krueng Tujoh memang sudah tercemar. Cuma hari ini masalahnya Sungai Krueng Tujoh sudah hilang dalam peta karena semua wilayah di sana sudah masuk IUP pertambangan batu bara,” ujarnya.

Ia meminta pemerintah tidak hanya melihat kontribusi perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, tetapi juga memastikan keberadaan sungai dan kawasan penyangganya tetap terlindungi.

“Kita jangan terbuai dengan pemberian CSR dari perusahaan. Dalam hal ini perlu dipahami secara mendalam,” tegasnya.

Di hadapan pimpinan dan anggota DPRK Aceh Barat, Abdul Jalil kemudian meminta adanya kesepakatan untuk memberikan perlindungan khusus terhadap Krueng Tujoh.

“Apakah hari ini sepakat bahwa Krueng Tujoh kita keluarkan dari IUP pertambangan? Dan kita minta 100 meter dari sempadan sungai,” kata Abdul Jalil.

Ia berharap usulan tersebut dapat menjadi salah satu langkah konkret untuk menjaga keberlangsungan Krueng Tujoh, melindungi daerah aliran sungai, serta memastikan sumber kehidupan masyarakat tetap terjaga di tengah aktivitas pertambangan di wilayah hulu.

Kontributor Daerah: Arif Fahmi
Editor: redaksi
Photographer: Arif Fahmi