Impian Jadi Dokter Terhenti, Dewi Asal Pedalaman Sikundo Gagal Kuliah karena Keterbatasan Ekonomi
ACEH BARAT | pojoksuara.id - Impian Dewi (18), seorang remaja asal Gampong Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi harus pupus. Lulusan SMA tahun 2026 itu terpaksa mengubur cita-citanya menjadi seorang dokter karena kondisi ekonomi keluarganya yang tidak mampu membiayai kuliah.
Padahal, Dewi memiliki tekad besar untuk menempuh pendidikan di dunia kesehatan agar suatu hari dapat membantu warga di wilayah pedalaman Aceh Barat.
Dalam keterangannya, Dewi mengaku keinginannya untuk kuliah masih sangat besar. Namun, keterbatasan biaya membuatnya harus menerima kenyataan pahit bahwa ia belum dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Kondisi orang tua memang kurang mampu, jadi tidak bisa melanjutkan kuliah. Mungkin ke depannya saya cari kerja dulu. Sebenarnya saya ingin kuliah di jurusan kedokteran. Tapi harapan itu sementara harus putus," ujar Dewi.
Dewi baru saja menyelesaikan pendidikan menengah atas tahun ini. Meski demikian, semangatnya untuk belajar belum padam. Ia berharap suatu saat nanti ada kesempatan ataupun bantuan yang dapat mengantarkannya kembali mengejar cita-cita.
"Kalau misalnya ada kesempatan, saya masih ingin melanjutkan kuliah," katanya.
Selain persoalan ekonomi, Dewi juga menceritakan berbagai keterbatasan yang dihadapi masyarakat di Gampong Sikundo. Salah satunya adalah belum tersedianya jaringan telekomunikasi yang memadai.
Untuk sekadar mengakses internet atau menggunakan media sosial, warga harus berjalan atau berkendara menuju kawasan Jambak yang berada cukup jauh dari permukiman.
"Di sini tidak ada jaringan. Kalau mau buka internet atau main HP harus turun ke Jambak dulu. Jalan ke sana juga tidak mudah," ungkapnya.
Meski hidup di daerah yang jauh dari pusat kota dengan berbagai keterbatasan, Dewi mengaku tetap mencintai kampung halamannya. Menurutnya, suasana di Sikundo masih asri, aman, dan tenteram karena berada di tengah pegunungan.
Namun, ia berharap suatu saat pembangunan infrastruktur, termasuk akses telekomunikasi dan pendidikan, dapat lebih diperhatikan sehingga anak-anak di pedalaman memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan tinggi.
Kisah Dewi menjadi gambaran bahwa hingga kini masih ada anak-anak di pelosok Aceh yang harus mengubur impian mereka bukan karena kurangnya semangat belajar, melainkan karena keterbatasan ekonomi dan minimnya akses terhadap fasilitas pendidikan. Dengan dukungan berbagai pihak, harapan agar generasi muda pedalaman dapat mengenyam pendidikan tinggi di masa depan diharapkan tidak lagi sekadar menjadi impian.










Komentar