BPJN Aceh Kaji Penanganan Permanen Longsor Enang-Enang, Masyarakat Diimbau Gunakan Jalur Alternatif
BENER MERIAH | pojoksuara.id - Dilangsir dari binamarga.pu.go.id, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh terus melakukan koordinasi dan kajian teknis untuk penanganan ruas jalan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah yang terdampak bencana longsor. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan penanganan dilakukan secara aman, tepat, dan berkelanjutan mengingat kondisi lokasi yang masih rawan pergerakan tanah.
Pada 28 Mei 2026, Plt. Kepala BPJN Aceh, Zulkarnaini, bersama jajaran melakukan pertemuan dengan Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar, di Pendopo Bupati Bener Meriah. Pertemuan itu membahas dampak bencana terhadap akses transportasi masyarakat, termasuk kondisi jalur alternatif yang saat ini menjadi penghubung utama menggantikan ruas Enang-Enang.
Dalam pertemuan tersebut dijelaskan bahwa mobilitas masyarakat hingga kini masih dapat dilayani melalui jalur alternatif. Karena itu, setiap langkah penanganan di lokasi longsor harus mempertimbangkan aspek keselamatan, kondisi geologi, serta efektivitas solusi yang akan diterapkan untuk jangka panjang.
BPJN Aceh menyampaikan bahwa hasil kajian teknis menunjukkan kondisi tanah di lokasi longsor masih tergolong labil sehingga memerlukan penanganan yang direncanakan secara matang. Kajian geoteknik menjadi bagian penting untuk menentukan metode penanganan yang tepat agar pekerjaan konstruksi nantinya aman dan berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, pada 29 Mei 2026, Plt. Kepala BPJN Aceh bersama jajaran meninjau langsung lokasi longsor di Enang-Enang didampingi Dinas PUPR Kabupaten Bener Meriah, unsur kecamatan, serta perwakilan masyarakat setempat.
Hasil peninjauan menunjukkan kerusakan di lokasi masih cukup kompleks. Selain terdapat longsoran di sejumlah titik, area jembatan juga mengalami kerusakan berat. Kedua sisi pendekat jembatan mengalami kerusakan, bahkan salah satu sisinya putus total sehingga struktur tersebut belum dapat difungsikan untuk mendukung lalu lintas kendaraan.
Tim juga menemukan kondisi tanah yang masih labil. Meski peninjauan dilakukan saat cuaca cerah, sejumlah titik masih menunjukkan adanya rembesan air dan kondisi tanah yang basah. Faktor tersebut dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas lereng serta keamanan pelaksanaan pekerjaan konstruksi di masa mendatang.
BPJN Aceh turut mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat yang berupaya membuka akses di beberapa titik longsoran. Upaya tersebut dinilai sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap kebutuhan konektivitas dan kelancaran aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.
Namun demikian, hasil peninjauan memperlihatkan bahwa pekerjaan swadaya masyarakat baru mencakup sebagian titik longsor dan belum mampu mengatasi kendala utama berupa kerusakan berat pada area jembatan beserta longsoran di sekitarnya. Dengan kondisi tersebut, ruas Enang-Enang masih belum dapat difungsikan sebagai jalur transportasi yang aman.
Dalam diskusi bersama warga, seluruh pihak sepakat bahwa akses transportasi di kawasan tersebut sangat dibutuhkan. Masyarakat juga menjelaskan bahwa kegiatan pembersihan yang dilakukan secara swadaya bertujuan membantu membuka akses demi menunjang mobilitas sehari-hari setelah bencana.
BPJN Aceh menegaskan bahwa penanganan permanen di lokasi memerlukan perencanaan teknis yang komprehensif karena tingkat kerusakan cukup berat dan kawasan tersebut masih rentan terhadap pergerakan tanah. Oleh sebab itu, seluruh tahapan kajian dan perencanaan harus dilakukan secara matang agar solusi yang diterapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang sekaligus meminimalkan risiko kerusakan kembali.
Dalam koordinasi tersebut juga disepakati pentingnya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kondisi aktual di lapangan dan potensi risiko yang masih ada. Untuk sementara, masyarakat diimbau tetap menggunakan jalur alternatif yang telah tersedia karena dinilai lebih aman dan masih mampu mendukung aktivitas transportasi.
BPJN Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Bener Meriah berkomitmen memperkuat koordinasi dan mengoptimalkan pelayanan pada jalur alternatif sembari melanjutkan seluruh tahapan kajian teknis sebagai dasar penanganan permanen di kawasan Enang-Enang.
Melalui sinergi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan proses pemulihan infrastruktur pascabencana dapat berjalan optimal sehingga konektivitas dan aktivitas masyarakat tetap terjaga dengan mengutamakan aspek keselamatan.










Komentar