Sekilas Info

BMKG: Sebagian Wilayah Sentra Sawit Diprediksi Alami Curah Hujan Rendah hingga Agustus 2026, Risiko Karhutla Meningkat

JAKARTA | pojoksuara.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Buletin Informasi Prakiraan Iklim untuk Perkebunan Sawit Edisi Mei 2026 memprediksi sebagian wilayah sentra perkebunan sawit di Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah selama periode Juni-Agustus 2026. Informasi tersebut dilangsir dari BMKG dan dipublikasikan dalam Buletin Informasi Iklim Perkebunan Komoditas Sawit Mei 2026.

Dalam buletin tersebut dijelaskan, hasil pemantauan April 2026 menunjukkan indeks ENSO berada pada angka +0,52 yang mengindikasikan El Nino Condition, sedangkan Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kondisi netral dengan indeks +0,05. Kondisi ini berpengaruh terhadap pola curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk kawasan sentra perkebunan sawit.

BMKG memperkirakan selama Juni hingga Agustus 2026, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah dengan sifat hujan bawah normal hingga normal. Di wilayah sentra sawit seperti Aceh, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan, curah hujan di bawah 100 mm per bulan diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman kelapa sawit.

Selain prakiraan hujan, BMKG juga mengingatkan bahwa tingkat ketersediaan air bagi tanaman diprediksi mulai menurun pada Agustus 2026 di sejumlah daerah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan pada lahan perkebunan apabila tidak diantisipasi melalui pengelolaan air yang memadai.

Dari sisi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BMKG memproyeksikan risiko kemunculan titik panas masih didominasi kategori rendah pada Juni hingga Agustus 2026. Namun, memasuki September hingga Oktober 2026, risiko diperkirakan meningkat di beberapa provinsi sentra sawit, terutama Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, dan Jambi.

Sebagai langkah mitigasi, BMKG merekomendasikan pengelola perkebunan untuk mengantisipasi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air melalui pengaturan irigasi yang sesuai, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. BMKG juga mengimbau agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun tindakan yang dapat memicu kebakaran, seperti membuang puntung rokok sembarangan.

Sumber: bmkg.go.id