Meugang, Tradisi Daging yang Menjadi Identitas Masyarakat Aceh
BANDA ACEH | pojoksuara.id - Tradisi Meugang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Setiap menjelang bulan suci Ramadan, Hari Raya Idulfitri, maupun Iduladha, masyarakat berbondong-bondong membeli, mengolah, hingga berbagi daging sebagai wujud rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Lebih dari sekadar tradisi kuliner, Meugang menyimpan nilai sejarah, budaya, serta religius yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa Kesultanan Aceh. Tradisi ini juga menjadi simbol kuatnya ikatan kekeluargaan dan semangat gotong royong yang masih terus lestari hingga sekarang.
Berikut artikel selengkapnya yang dilangsir dari laman resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh disbudpar.acehprov.go.id tanpa mengubah isi maupun substansi tulisan aslinya.

Di Aceh, menyambut bulan suci Ramadhan maupun hari raya besar Islam bukan hanya tentang ibadah dan persiapan spiritual. Ada satu tradisi yang selalu hadir dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh, yaitu Makmeugang atau lebih dikenal dengan sebutan Meugang. Tradisi ini merupakan kegiatan memasak dan menyantap daging bersama keluarga yang dilakukan menjelang Ramadhan, Idulfitri dan Iduladha.
Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan sekadar tradisi kuliner tahunan. Tradisi ini memiliki nilai sejarah, sosial, budaya, hingga religius yang telah diwariskan turun-temurun sejak berabad-abad lalu. Bahkan, Meugang telah berlangsung sejak abad ke-14 Masehi, bersamaan dengan masuk dan berkembangnya Islam di Aceh. Tradisi ini menjadi bentuk kegembiraan dalam menyambut bulan suci Ramadhan dan penghormatan terhadap hari raya Idulfitri serta Iduladha.
Ketika uroe makmeugang tiba, suasana di berbagai daerah Aceh berubah drastis. Pasar tradisional dipenuhi masyarakat yang berburu daging dan rempah-rempah sejak subuh hari. Di sepanjang jalan muncul penjual daging musiman yang menjajakan sapi maupun kerbau untuk memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat.
Suasana Meugang selalu identik dengan kesibukan dan keramaian. Hampir seluruh rumah di Aceh dipenuhi aroma masakan daging khas yang menggoda selera. Berbagai olahan seperti kari, rendang, masak putih, hingga gulai khas Aceh menjadi sajian utama di meja makan keluarga.
Selain membeli langsung di pasar, sebagian masyarakat juga melakukan tradisi meuripe, yaitu pengumpulan uang secara patungan untuk membeli sapi atau kerbau yang nantinya disembelih bersama saat hari Meugang tiba. Tradisi ini mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat Aceh.
Dalam sejarah masyarakat Aceh yang Islami, Meugang merupakan hari yang sangat penting. Pada masa Kesultanan Aceh, Sultan memiliki kebiasaan membagikan daging, pakaian, dan beras kepada fakir miskin menjelang hari besar Islam. Tradisi tersebut menjadi simbol kepedulian sosial dan rasa syukur atas datangnya bulan suci maupun hari raya.
Karena itulah, hingga kini Meugang tidak hanya dimaknai sebagai tradisi makan daging, tetapi juga sebagai momen berbagi kebahagiaan dengan sesama. Banyak keluarga yang membagikan daging kepada tetangga, anak yatim, maupun masyarakat kurang mampu agar semua orang dapat menikmati suasana hari besar dengan penuh suka cita.
Tradisi Meugang juga melahirkan berbagai olahan daging khas Aceh yang masih dikenal hingga sekarang. Sebagian daging tidak langsung dimasak habis, tetapi diawetkan menggunakan cara tradisional.
Di wilayah Kabupaten Pidie misalnya, masyarakat mengenal sie thoe atau sie teupeh, yaitu daging kering menyerupai dendeng dengan cita rasa asin khas. Daging tersebut dipukul terlebih dahulu sebelum digoreng agar teksturnya lebih lembut.
Sementara di Aceh Besar dikenal makanan khas bernama sie reuboh. Olahan ini dibuat dengan memasak daging menggunakan cuka dan berbagai rempah pilihan. Penggunaan cuka dalam jumlah tertentu membuat daging dapat bertahan lama dan cukup dipanaskan kembali saat ingin disantap.
Kehadiran kuliner-kuliner tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Aceh sejak dahulu memiliki cara cerdas dalam mengolah dan mengawetkan bahan makanan tanpa menghilangkan cita rasanya.
Nilai paling penting dari Meugang terletak pada unsur kekeluargaan dan hubungan sosial yang kuat. Menjelang Ramadhan, banyak masyarakat Aceh yang merantau memilih pulang kampung demi berkumpul bersama keluarga dan menikmati Meugang bersama.
Tradisi ini juga memiliki makna simbolik dalam kehidupan rumah tangga masyarakat Aceh. Seorang linto baro atau pengantin pria yang baru menikah secara moral dianggap perlu membawa beberapa kilogram daging kepada keluarga mertuanya. Hal tersebut menjadi simbol tanggung jawab, kemampuan memberi nafkah, sekaligus bentuk penghormatan kepada keluarga sang istri.
Lebih dari itu, Meugang menjadi sarana mempererat tali persaudaraan, menghormati orang tua, dan memperkuat solidaritas sosial melalui kegiatan berbagi kepada fakir miskin dan anak yatim.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, tradisi Meugang tetap bertahan dan menjadi identitas budaya masyarakat Aceh. Tradisi ini tidak hanya menjaga hubungan antaranggota keluarga, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Meugang mengajarkan bahwa kebahagiaan menyambut hari besar Islam bukan hanya dirasakan secara pribadi, melainkan juga harus dibagikan kepada sesama. Nilai gotong royong, rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang terkandung di dalamnya menjadikan Meugang bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi warisan budaya yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Aceh hingga hari ini.










Komentar