Kuk Meurah Kundo dan Perjuangan Hidup di Pedalaman Aceh Barat
ACEH BARAT | pojoksuara.id - Di balik hijaunya perbukitan Gampong Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, hidup seorang lelaki tua yang namanya telah menjadi bagian dari sejarah desa. Nama aslinya Wahab, namun hampir seluruh warga mengenalnya sebagai Kuk Meurah Kundo. Bagi masyarakat setempat, ia bukan hanya seorang petani, tetapi juga sesepuh kampung yang dihormati karena kesederhanaan, keteguhan, dan kepeduliannya terhadap sesama.
Pada Kamis, 23 Juli 2026, tim pojoksuara.id menempuh perjalanan lebih dari 60 kilometer dari Kota Meulaboh untuk menemuinya. Jalan tanah berbatu, tanjakan curam, hingga derasnya sungai menjadi bagian dari perjalanan menuju desa yang masih berada di kawasan pedalaman Aceh Barat.
Sesampainya di rumah sederhana yang dikelilingi kebun tebu, Kuk Meurah Kundo ternyata tidak berada di rumah. Hampir satu jam menunggu, salah seorang cucunya, Ema Malini (26), kemudian mengajak tim menyusuri jalan setapak menuju kebun durian, tempat sang kakek sedang membersihkan rumput dan memperbaiki saluran air dari mata air pegunungan.
Pemandangan itu menjadi kesan pertama yang begitu membekas. Di usia senja, ketika banyak orang memilih beristirahat, Kuk Meurah Kundo masih menggenggam parang dan bekerja di kebun yang telah menjadi sumber penghidupan keluarganya selama puluhan tahun.
Di balik kesederhanaannya, tersimpan pula sebuah kisah yang hingga kini masih menjadi misteri, yakni tentang usianya. Dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), ia tercatat lahir pada 6 Januari 1933. Namun, Kuk Meurah Kundo dan keluarganya meyakini usia beliau jauh lebih tua dari data administrasi tersebut. Kenangan tentang masa pendudukan Jepang di Aceh serta kisah perjalanan hidupnya menjadi bagian dari alasan yang akan diungkap lebih mendalam dalam laporan ini.
Tidak hanya dikenal sebagai petani, Kuk Meurah Kundo juga dipercaya sebagian warga sebagai sosok yang kerap dimintai doa untuk mengobati pasien "meurajah" ketika ada warga yang sakit atau sedang menghadapi musibah. Di tengah keterbatasan akses menuju layanan kesehatan, perannya sebagai sesepuh kampung menjadi bagian dari tradisi yang masih hidup di pedalaman Aceh.
Kehidupan sehari-harinya pun tidak lepas dari perjuangan. Untuk membeli kebutuhan pokok, menuju masjid, atau memenuhi permintaan warga yang membutuhkan doa, ia harus meniti sebuah "Titi Ayoen" jembatan darurat yang membentang di atas sungai. Jembatan sederhana itu menjadi simbol keteguhan masyarakat Sikundo dalam menjalani kehidupan di tengah keterbatasan.
Feature selengkapnya akan tayang dalam beberapa bagian yang menceritakan khusus kehidupan warga Sikundo, penulis akan mengajak pembaca menelusuri lebih dekat sosok Kuk Meurah Kundo mulai dari perjalanan hidupnya, misteri usia yang diyakini telah melewati satu abad, kenangan tentang masa perang, perjuangan sebagai petani, hingga harapan sederhana yang masih ia titipkan untuk kampung halaman yang dicintainya.
Di balik wajah yang dipenuhi keriput dan langkah yang mulai melambat, Kuk Meurah Kundo menyimpan pelajaran berharga tentang kesabaran, keikhlasan, dan arti bertahan hidup. Sebuah kisah dari pedalaman Aceh Barat yang bukan hanya layak dikenang, tetapi juga diwariskan kepada generasi yang akan datang.









Komentar