Sekilas Info

Demi Ujian Sekolah, Siswa Pedalaman Aceh Barat Rela Berenang dan Menyeberangi Sungai Deras Setiap Hari

Sejumlah orang tua siswa megandeng anaknya saat melintasi sungai untuk berangkat ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Alue Lhok dari Desa Canggai menuju ke Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Aceh, Jumat (5/6/2026). Photo : ARIFFAHMI

Laporan Khusus Pojoksuara.id

Pukul 08.28 WIB, tim Pojoksuara.id tiba di Gampong Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, setelah menempuh perjalanan sekitar 50 kilometer atau lebih kurang 1 jam 25 menit dari Kota Meulaboh. Jum'at, (5/6/2026).

Perjalanan menuju SD Negeri Alue Lhok bukanlah perjalanan biasa. Jalan berkelok, perbukitan, dan jejak kerusakan akibat banjir besar yang melanda kawasan itu beberapa bulan lalu masih terlihat di sepanjang perjalanan.

Namun sesampainya di lokasi, perhatian kami langsung tertuju ke arah sungai yang membelah Gampong Jambak dan Gampong Cangai. Bahkan sebelum mesin kendaraan benar-benar dimatikan, dari balik kaca mobil terlihat beberapa anak sekolah sedang berada di tengah sungai.

Tanpa berpikir panjang, kami segera turun dan berlari menuju tepian sungai. Langkah kaki harus melewati hamparan bekas sawah warga yang kini tak lagi menyerupai sawah. Banjir besar yang menerjang kawasan itu telah mengubah lahan pertanian menjadi hamparan batu, pasir, batang kayu, dan material yang terseret arus.

Semakin mendekat ke bibir sungai, semakin jelas terlihat perjuangan yang selama ini hanya kami dengar dari cerita masyarakat. Di seberang sungai, para orang tua tampak sibuk mempersiapkan keberangkatan anak-anak mereka menuju sekolah.

Ada yang memasukkan seragam ke dalam kantong plastik agar tidak basah. Ada yang memikul tas sekolah di bahu. Ada yang menggandeng tangan anaknya erat-erat. Bahkan ada pula yang bersiap menggendong anak mereka untuk menyeberangi sungai.

Sungai yang memisahkan kedua gampong itu memiliki lebar sekitar 50 meter. Dari tepian sungai, ketinggian air terlihat mencapai pinggang hingga dada orang dewasa. Di beberapa titik, kedalamannya diperkirakan mencapai sekitar satu meter. Arusnya tidak terlalu deras pagi itu. Namun tetap cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum melintasinya.

Tetapi bagi anak-anak di sini, sungai bukan lagi penghalang. Sungai telah menjadi jalan menuju sekolah. Satu per satu siswa mulai turun ke air. Sebagian berjalan perlahan sambil berpegangan tangan dengan ayah atau ibunya. Sebagian lagi digendong menembus arus sungai. Beberapa siswa yang sudah terbiasa terlihat berenang sendiri menuju daratan seberang.

Mereka tidak mengenakan seragam sekolah. Baju sekolah, buku, dan perlengkapan belajar disimpan di dalam tas atau kantong plastik yang dibawa oleh orang tua mereka. Sesampainya di daratan seberang, anak-anak itu berganti pakaian sebelum melanjutkan perjalanan menuju SD Negeri Alue Lhok yang berada di Gampong Jambak. Pemandangan tersebut baru terjadi sekitar beberapa hari terakhir.

Ketika Takut Harus Dikalahkan oleh Keinginan untuk Belajar

Di balik senyum dan tawa yang sesekali terlihat, tersimpan rasa takut yang sebenarnya juga dirasakan oleh anak-anak itu.

Syafira Adelia_Siswi Kelas V SDN Alue Lhok

Syafira Adelia, siswi kelas V SD Negeri Alue Lhok, mengaku dirinya tidak memiliki pilihan lain selain menyeberangi sungai untuk bisa sampai ke sekolah.

"Karena jembatan sudah putus, rumah kami jauh dari sekolah. Jadi kami hanya bisa menyeberang sungai untuk pergi ke sekolah. Kalau air sungainya tidak terlalu besar masih bisa kami lewati, tapi kalau airnya naik kami takut," ujar Syafira.

Meski demikian, ia tetap berangkat sekolah karena hari ini ujian semester. Sebab bagi Syafira, pendidikan jauh lebih penting daripada rasa takut yang harus dihadapinya.

"Kami berharap jembatan segera dibangun supaya bisa sekolah dengan aman," katanya.

Harapan yang sama juga disampaikan Agus Firmansyah, siswa kelas V lainnya.

Agus Firmansyah_Siswa Kelas V SDN Alue Lhok

Menurut Agus, jalur sungai tetap menjadi pilihan karena jauh lebih dekat dibandingkan harus memutar menggunakan jalur alternatif.

"Jembatan yang dulu kami lewati sudah putus karena banjir. Kalau lewat jalan lain jauh. Karena itu kami menyeberang sungai supaya lebih cepat sampai ke sekolah. Takut juga, tapi karena sudah sering jadi terbiasa," ujarnya.

Kalimat sederhana dari anak-anak itu terdengar biasa.

Namun di baliknya tersimpan cerita tentang keberanian yang mungkin tak pernah mereka sadari.

Orang Tua yang Ikut Menanggung Perjuangan

Jika anak-anak berjuang menuju sekolah, para orang tua pun menjalani perjuangan yang sama selama beberapa hari terakhir. Mereka tidak hanya mengantar anak-anak hingga ke tepi sungai. Mereka ikut turun ke dalam air, membantu membawa tas, memegang pakaian sekolah, menggandeng tangan anak-anak, bahkan menggendong mereka hingga tiba di seberang.

Muhammad Idrus, salah seorang orang tua murid, mengaku kondisi tersebut sudah menjadi rutinitas selama beberapa hari ini.

"Ada jalur alternatif, tapi jauh sekitar delapan kilometer. Karena itu kami memilih menyeberang sungai dari sini karena lebih dekat. Pagi kami antar anak-anak, siang kami jemput lagi," katanya.

Muhammad Idrus_Orang Tua Murid

Menurut Idrus, sebelum banjir melanda kawasan tersebut, seluruh aktivitas masyarakat bergantung pada jembatan gantung yang kini telah rusak.

"Dulu ada jembatan gantung, tapi setelah banjir besar kemarin jembatan itu ambruk dan putus. Jalan menuju sekolah juga banyak yang rusak akibat diterjang arus," ujarnya.

Pilihan yang tersedia saat ini sama-sama sulit. Saat musim kemarau, siswa memilih menyeberangi sungai karena jaraknya hanya sekitar 800 meter menuju sekolah. Jika menggunakan jalur darurat berupa dua utas tali kabel yang dipasang warga, mereka harus berjalan kaki mengelilingi bukit dengan jarak sekitar dua kilometer.

Bagi warga yang memiliki sepeda motor, perjalanan menuju sekolah harus memutar sekitar delapan kilometer. Sedangkan kendaraan roda empat harus melalui jalur Desa Lango dengan jarak tempuh mencapai 11 kilometer.

Karena itulah banyak orang tua memilih menyeberangi sungai bersama anak-anak mereka saat kondisi air masih memungkinkan.

Sekolah yang Ikut Menanggung Luka Bencana

Banjir yang memutus akses menuju sekolah ternyata juga meninggalkan luka mendalam bagi SD Negeri Alue Lhok.

Amir, S.Pd (Kepala SDN Alue Lhok)

Kepala sekolah, Amir, S.Pd, mengatakan pihaknya telah berupaya keras agar proses belajar mengajar tetap berjalan. Salah satu solusi yang dilakukan adalah membuka kelas jauh di Gampong Cangai.

"Sejak jembatan gantung penghubung Desa Cangai menuju sekolah ambruk akibat banjir, pihak sekolah mengambil kebijakan membuka kelas jauh bagi siswa yang berada di seberang sungai. Kami membuka dua lokasi belajar, yaitu untuk kelas rendah dan kelas tinggi, dengan memanfaatkan fasilitas milik desa," jelas Amir.

Selama hampir lima bulan terakhir, guru-guru ditugaskan mengajar langsung di desa tersebut.

"Guru-guru kami tugaskan mengajar di sana agar anak-anak tidak perlu menyeberangi sungai setiap hari," katanya.

Namun karena saat ini sedang berlangsung ujian kenaikan kelas, seluruh siswa harus mengikuti ujian di sekolah induk. Akibatnya mereka kembali harus menghadapi perjalanan yang penuh risiko.

"Sebenarnya kami sudah melarang siswa menyeberangi sungai. Tetapi karena jalur lain terlalu jauh, orang tua memilih mengantar anak-anak agar bisa mengikuti ujian," ujar Amir.

Tidak hanya akses yang rusak. Rumah dinas guru, perpustakaan, kantor sekolah, ruang belajar, serta berbagai fasilitas pendidikan lainnya juga rusak bahkan hanyut terbawa arus banjir.

"Kami berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan yang roboh. Selain itu kami juga berharap sekolah ini dapat direlokasi karena kondisinya sudah sangat rawan. Banyak fasilitas sekolah yang rusak dan hanyut akibat banjir," katanya.

Sebuah Jembatan Bernama Harapan

Bagi sebagian orang, pergi ke sekolah mungkin hanya perjalanan beberapa menit dari rumah. Namun bagi anak-anak di Gampong Cangai, sekolah berarti menyeberangi sungai, berjalan kaki berkilometer, atau berada dalam pelukan ayah dan ibu yang menggendong mereka melawan arus.

Mereka tidak meminta gedung sekolah yang megah. Mereka tidak meminta fasilitas yang berlebihan. Mereka hanya ingin sampai ke sekolah dengan selamat.

Pagi itu, di tepian sungai yang menjadi saksi perjuangan mereka, kami melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar perjalanan menuju sekolah.

Kami melihat keteguhan hati para orang tua yang tak pernah lelah mengantar anak-anaknya belajar. Kami melihat keberanian anak-anak yang mengalahkan rasa takut demi mengejar cita-cita. Dan kami melihat sebuah harapan yang sama dari seluruh warga di kawasan ini.

Harapan agar suatu hari nanti, sebuah jembatan kembali berdiri menghubungkan dua tepian sungai yang kini terpisah. Karena bagi mereka, jembatan itu bukan sekadar bangunan penghubung. Jembatan itu adalah jalan menuju pendidikan, masa depan, dan mimpi-mimpi anak-anak pedalaman Aceh Barat yang hingga hari ini masih terus mereka perjuangkan.

Kontributor Daerah: TIm Redaksi Pojok Suara
Editor: redaksi
Photographer: Arif Fahmi